MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON OCTOBER 17, 2017)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

BEATRIZ AT DINNER (2017)

Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz adalah liberal. Filmnya sendiri merupakan usaha sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kolaborasi kedua mereka setelah Chuck & Buck dan The Good Girl, membuat dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk bisa menggelitik maupun memancing pemikiran.

Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan karena mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan memakai pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian saat terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang asing yang begitu berbeda dengan kita. 
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti sampai presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, sebab (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.

Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang sanggup mengikat akibat dialog dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung karena tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis dialog yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih menawarkan jalan tersebut, film ini memilih menghadapi kompleksitas dengan pola pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".

Padahal Salma Hayek menawarkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, sampai gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris tenggelam dalam peran yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak seperti filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani karakter Beatriz.

GEOSTORM (2017)

Apa pemicu utama keberhasilan disaster film? Bukan semata bujet besar. Ingat, The Impossible berhasil secara meyakinkan mereka ulang tsunami tahun 2004 walau hanya punya anggaran 45 juta dollar. Menempatkan bencana di atas unsur lain dan membawa penonton berada di tengahnya adalah poin terpenting. Sehingga saat Geostorm tak pernah merealisasikan situasi maut seperti yang dijanjikan, artinya debut penyutradaraan Dean Devlin ini gagal memenuhi hakikatnya. Tidak mengejutkan, sebab filmnya sudah empat kali berganti tanggal rilis, salah satunya akibat hasil test screening buruk yang memaksa pengambilan gambar ulang dilakukan.

Adegan pembukanya menjanjikan, mengisahkan upaya kerja sama 17 negara menciptakan satelit pengontrol cuaca bernama "Dutch Boy" demi menghentikan bencana global. Jake Lawson (Gerard Butler) merupakan pimpinan proyek tersebut. Tetapi begitu akhirnya kondisi aman, Jake justru "ditendang" dari tim, digantikan oleh adiknya, Max (Jim Sturgess). Sifat manusia yang bersedia bersatu kala dirundung kesusahan hanya untuk mementingkan ego setelah kembali  merasa aman, sekilas disiratkan, walau sayangnya urung benar-benar dieksplorasi. 
Tiga tahun berselang, kejadian aneh mulai menyerang berbagai negara, diawali daerah gurun Afganistan yang membeku. Malfungsi pada Dutch Boy diduga jadi penyebabnya. Jake pun diminta bertugas lagi di stasiun luar angkasa demi mendeteksi kerusakan satelit buatannya sebelum terjadi geostorm, yaitu badai raksasa berskala global yang akan mengakhiri dunia. Terdengar epik, dan filmnya pun menjanjikan itu tatkala sepanjang durasi penonton diperlihatkan tsunami, gempa, hujan es, dan lain-lain. Tapi geostorm sendiri tak pernah diwujudkan. Menyisakan kehancuran berskala non-global yang sekedar muncul sekilas bagi penonton.

Bukankah jika geostorm berlangsung artinya kiamat? Benar, dan bukan masalah. 2012-nya Roland Emmerich jadi contoh sewaktu manusia tak mampu membendung "kiamat", fokus diberikan pada perjuangan bertahan hidup. Sejatinya mengedepankan usaha preventif pun dapat menarik asalkan berkutat di aktivitas menantang maut seperti Michael Bay tunjukkan lewat Armageddon. Dalam Geostorm, protagonis lebih sibuk mengutak-atik komputer yang turut menyia-nyiakan talenta Gerard Butler. Kurang bijak membayar Butler untuk mengucapkan kalimat-kalimat ilmiah alih-alih beraksi menyelamatkan dunia sebagai action hero. Cuma sebuah sekuen aksi ia dapat, itu pun dilakoni dalam balutan spacesuit
Singkatnya, para protagonis jarang ditempatkan langsung di pusat kekacauan. Max dan Sarah (Abbie Cornish), kekasihnya sekaligus anggota secret service sempat terjebak badai halilintar, namun Devlin memilih memusatkan kamera pada mobil yang dipacu ketimbang kerusakan sekitar. Devlin boleh saja menulis naskah lima film Emmerich, tapi dia tak "tertular" kapasitas pengadeganan sang maestro film bencana. Staging Devlin amat buruk. Daripada digiring ke dalamnya, peran penonton sebatas observer akan peristiwa yang tidak terlihat meyakinkan karena CGI buruk. Bahkan CGI penyusun latar kota (khususnya Rusia) pun tampak menggelikan.

Kurangnya eksekusi adegan bencana baik dari kuantitas maupun kualitas, Geostorm nyaris tak punya faktor pemberi kenikmatan. Drama keluarganya gagal menyentuh akibat penggalian dangkal naskah buatan Dean Devlin dan Paul Guyot. Pun performa cast-nya kurang mendukung di mana hanya Talitha Bateman (Annabelle: Creation) melalui kemunculan singkat sebagai puteri Jake yang sanggup menangani momen emosional. Demikian pula selipan humor yang bagai dibawakan setengah hati para pemain, kecuali Zazie Beetz dengan gaya deadpan menggelitik miliknya.

MEREKA YANG TAK TERLIHAT (2017)

Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan karena rekor MURI untuk "Film drama horor dengan pemeran karakter makhluk astral terbanyak" alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.

Saras (Estelle Linden) mampu melihat hantu sedari kecil, tepatnya sejak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat sampai meminta bantuan terkait persoalan yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan pribadi Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue. 
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang karakter dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu adalah proses yang kita semua alami, seperti mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan saat Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun isu seputar pergaulan remaja termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.

Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan hubungan Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah laki-laki di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan usaha penyelamatan yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan "magnet". Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan cerita minim rasa akibat kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong saat Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu. 
Fragmen terakhir adalah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat bantuan akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar sempurna menuju epilog andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan aliran narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.

Upaya menciptakan sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, sebab itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, karena tata suara yang memperdengarkan tangisan, erangan, sampai tawa hantu nyatanya lumayan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut "torture porn", maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal adalah "ghost porn". Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan. 

ONE FINE DAY (2017)

Bertaburan bintang idola kaum remaja, mengusung tumbuhnya asmara di setting luar negeri, wajar apabila banyak pihak skeptis akan produksi teranyar Screenplay Films ini. Terlebih Asep Kusdinar juga Tisa TS masing-masing tetap ada di kursi sutradara dan penulis naskah. Tidak bisa disalahkan. Itulah formula kemenangan yang menghasilkan dua film dengan jumlah penonton di atas sejuta. Andai berubah pun sifatnya takkan ekstrim dan tiba-tiba. Namun ketika beberapa bulan lalu Promise "hanya" meraih sekitar 655 ribu penonton, terendah dibanding film Screenplay lain, sedikit modifikasi rasanya perlu, dan One Fine Day melakukan itu.

Kini giliran Barcelona menjadi panggung sewaktu Mahesa (Jefri Nichol), musisi amatir sekaligus penipu ulung pemeras uang wanita-wanita yang dipacarinya, bertemu Alana (Michelle Ziudith). Mudah bagi Alana menyukai Mahesa yang hangat nan romantis mengingat sikap posesif sang kekasih, Danu (Maxime Bouttier) yang sampai mengirim bodyguard untuk mengawalnya ke mana saja. Berikutnya bisa ditebak, One Fine Day berkutat pada cinta segitiga, tepatnya pertarungan Danu si kaya yang sombong melawan Mahesa yang apa adanya tapi penuh kebebasan. Sesederhana itu.
"Sederhana" sesungguhnya kurang pas disematkan bagi karya Screenplay, pun One Fine Day yang diisi jalan-jalan mengelilingi Barcelona. Namun ketimbang judul-judul sebelumnya, film ini tak lagi disusun oleh barisan kutipan "romantis". Sesekali kalimat bernada puitis terucap tapi dalam kadar normal. Meski harus diakui, jalinan asmaranya tetap bergulir dangkal di mana kebahagiaan identik dengan montage jalan-jalan ditemani lagu Te Amo Mi Amor sambil memaksakan Alana (si pencari kebahagiaan) tertawa menanggapi apapun tingkah Mahesa (si pemberi kebahagiaan). 

Setidaknya dibandingkan Promise atau dwilogi London Love Story, glamoritas berupa mengendarai mobil mewah di luar negeri atau berkencan di restoran mahal bukan pondasi. Didorong pemanfaatan tepat setting di mana kemeriahan kultur serta musik menghadirkan tarian kegembiraan, kedua tokoh utama tampak murni mencari cinta. Kali ini setting luar negeri bukan sekedar memfasilitasi hedonisme karakternya, melainkan usaha mereka mengejar kebahagiaan. Hal ini didukung pula oleh sosok Mahesa yang dari luar tak sesempurna protagonis pria lain milik Screenplay. 
Jefri Nichol jelas piawai melakoni peran bad boy, walau resiko typecast perlu ia perhatikan demi daya tahan karirnya. Satu detail yang agak mengganggu adalah ketika Nichol beberapa kali bermain gitar tanpa memindahkan kunci. Sementara Michelle Ziudith dengan tangisannya niscaya bakal mudah membuat penonton remaja ikut berurai air mata. Walau cukup disayangkan, penokohan Alana yang cenderung pasif kurang memberinya kesempatan unjuk gigi keahlian mencuri perhatian sebagai gadis bersemangat. Padahal barter sindiran antara Ziudith dan Nichol bakal memberi nyawa lebih untuk percikan asmara filmnya.

Kembali menyoal penyederhanaan, memilih tidak lagi memaksakan keberadaan rahasia atau twist "besar" yang senantiasa jadi "penyakit" Screenplay jelas nilai tambah dalam One Fine Day. Pergerakan alur pun berakhir lebih lancar, tanpa terbebani pengungkapan kejutan tak masuk akal selaku konklusi. Lupakan keraguan sembari menyadari tujuan serta target pasar filmnya, maka anda akan menemukan One Fine Day sebagai rilisan terbaik Screenplay Films sejauh ini.

THE PROMISE (2017)

The Promise jadi usaha Sophon Sakdaphisit (Ladda Land, Coming Soon, The Swimmers) menyuguhkan horor dengan pondasi dramatik. Tampak dari unsur persahabatan serta kekeluargaan kental dalam naskah karya Sophon bersama Sopana Chaowiwatkul dan Supalerk Ningsanond. Alih-alih seketika meneror, penonton terlebih dulu diajak berkenalan dengan dua remaja yang bersahabat, Ib (Panisara Rikulsurakan) dan Boum (Thunyaphat Pattarateerachaicharoen). Tidak hanya selalu bersama, kedua ayah mereka pun menjalin kerja sama pada sebuah proyek pembangunan gedung. Sampai krisis finansial tahun 1997 merenggut segalanya.

Keputusan tepat memakai krisis moneter sebagai latar, sebab motivasi dan kondisi psikis karakter dapat terjabarkan tanpa perlu menyita banyak waktu. Selipan sederet stock footage turut membantu penonton memahami lingkup permasalahan yang menghancurkan hidup dua tokoh utama. Keduanya jatuh miskin sekaligus mesti menghadapi kekerasan ayah masing-masing. Tertekan luar biasa, mereka memutuskan bunuh diri. Namun setelah Ib menarik pelatuk, Boum yang ketakutan memilih kabur. 20 tahun kemudian, Boum (Namthip Jongrachatawiboon) adalah wanita karir sukses dengan seorang puteri bernama Bell (Apichaya Thongkham). 
Mencapai sekitar 20 menit durasi, barulah The Promise menampakkan horornya saat arwah Ib kembali demi menagih janji. Bukan nyawa Boum yang diincar, melainkan Bell, yang segera berumur 15 tahun, usia yang sama dengan Ib kala bunuh diri. Metode menakut-nakutinya masih berkutat di pakem jump scare berbumbu efek suara kencang, tapi The Promise punya tata suara mumpuni yang hampir selalu berhasil menghasilkan daya kejut maksimal walau kita telah bersiap sekalipun. Meski perlu diakui bukan jalan elegan, setidaknya deretan hentakan mampu menjaga tensi. 
Patut diapresiasi juga adalah keberanian Sophon meniadakan penampakan secara gamblang. Hasilnya, arwah Ib terjaga sebagai entitas misterius yang bisa seketika menghantui entah lewat menggerakkan barang atau melalui pertanda lain. Kesan sang arwah senantiasa mengintai dari balik kegelapan menunggu kesempatan teror paling kuat terasa dalam dua momen: face detector dan sewaktu Boum nekat mencari keberadaan Ib bersama seorang bocah. Sayang, mencapai paruh akhir di mana intensitas semestinya memuncak, Sophon bagai kehabisan akal, bergantung pada repetisi jump scare minim daya cengkeram.

Kelemahan terbesar The Promise terletak di third act. Sophon berlama-lama berkutat di berbagai titik. Pun keputusan memberi sentuhan drama turut menjadi bumerang tatkala filmnya dipaksa menghadirkan ragam resolusi jauh setelah ancaman utama berakhir. Apalagi balutan dramanya sendiri bergulir tak seberapa solid. Di satu sisi, sebagai horor, The Promise jadi memiliki bobot, ada sesuatu untuk diceritakan ketimbang sepenuhnya parade jump scare. Namun di sisi lain, akibat harus berbagi dengan elemen horor, tuturan kisahnya kekurangan porsi pengembangan yang berperan vital mengikat emosi penonton. Padahal jajaran pemain punya kapasitas memadahi, baik Apichaya Thongkham yang cute dan likeable atau Namthip Jongrachatawiboon sebagai ibu sekaligus kawan yang didera keputusasaan.

THE LOVERS (2017)

The Lovers terlihat familiar di permukaan, tentang pernikahan pasangan suami istri paruh baya yang diterpa krisis berbentuk kebosanan berujung perselingkuhan. Tapi Azazel Jacobs sang sutradara sekaligus penulis naskah memberi satu sentuhan pembeda: kedua belah pihak berselingkuh secara berbarengan. Situasi tersebut Jacobs manfaatkan bukan saja demi menaikkan kompleksitas, pula meminimalkan, bahkan meniadakan keberpihakan penonton, pun memancing kelucuan. 

Mary (Debra Winger) dan Michael (Tracy Letts) jarang bertengkar, setidaknya dari yang nampak di layar. Namun dinding tebal tak kasat mata rupanya memberi jarak. Mereka urung berkomunikasi, seolah bosan pada pasangannya. Mungkin itu pula alasan keduanya memilih Robert (Aidan Gillen) dan Lucy (Melora Walters) yang lebih energik dan bersemangat sebagai kekasih gelap. Mary dan Michael mencari "api" yang tengah padam. Walau dirundung keraguan, keputusan telah diambil. Baik Mary maupun Michael bertekad mengaku untuk meninggalkan satu sama lain saat sang putera, Joel (Tyler Ross) berkunjung. 
Bukan perkara gampang mengakui perselingkuhan, apalagi jika pengakuan itu berujung permintaan untuk mengakhiri pernikahan. Ketakutan, kecemasan, penyesalan menghantui Mary dan Michael. Lucunya, mereka tak menyadari si pasangan menyimpan dilema serupa. Hasilnya adalah kecanggungan menggelitik. Jacobs piawai merangkai keheningan dua tokoh utama yang di waktu bersamaan menggiring kita menebak-nebak isi pikiran mereka. "Bagaimana aku harus mengaku?" atau "Kenapa dia terdiam? Apakah dia mecurigaiku?" jadi beberapa kalimat imajiner yang timbul kala mengobservasi interaksi bisu Mary dan Michael. 

Perselingkuhan dalam The Lovers terjadi didorong keinginan protagonis mencari kesenangan, gelora asmara tanpa beban. Tetapi menginjak pertengahan, filmnya cerdik memutarbalikkan peran tersebut, ketika Mary dan Michael justru terbebani desakan para simpanan untuk segera mengakhiri pernikahan. Sebaliknya, kehangatan keduanya malah perlahan kembali, disebabkan tiada tuntutan dalam hubungan mereka di fase itu. Penelusuran atas kompleksitas percintaan dan pernikahan yang mengombang-ambingkan pelakunya dalam ketidakpastian ini Jacobs pertahankan hingga konklusi yang menghasilkan happy ending secara ironis, dan lagi-lagi menggelitik.
Walau menggali permasalahan pelik nan serius, Jacobs enggan menyajikan nuansa kelam. Selain balutan humor, musik gubahan Mandy Hoffman turut berperan. Orkestra megah senantiasa mengiringi, sekalipun di momen sederhana minim goncangan permasalahan. Dampaknya beragam. Ada kalanya menguatkan kelucuan, sesekali tercipta ketepatan dramatisasi, namun tidak jarang terasa berlebihan dan tak perlu. Meski secara keseluruhan, usaha menjadikan film ini selaku opera kehidupan rumah tangga dengan kejenakaan bernada ironis dapat tercapai.

Menyentuh paruh akhir, The Lovers mulai menemukan batu sandungan lain. Salah satu selingkuhan menampakkan diri melontarkan "teror" menghasilkan konflik penambah dinamika, tetapi lain cerita sewaktu keduanya hadir. Selain permasalahan tidak lagi terjalin natural, juga satu bentuk penggampangan Jacobs perihal penyelesaian masalah. Ditambah lagi sebuah detail kecil yang melemahkan usaha filmnya untuk bersikap adil kepada dua protagonis. Di luar kekurangan itu, The Lovers masih komedi-romantis dengan perspektif dewasa yang paling tidak, menghibur selaku suguhan alternatif.

BLADE RUNNER 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film asli bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata usaha putus asa mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan adaptasi novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve mampu melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis tentang eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang kini berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik investigasi K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi intinya penyelidikan K mengarah akan rahasia replicants yang dapat mengubah dunia, khususnya hubungan mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya pengaruh noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat dipakai supaya tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, menjadikan aktivitas sederhana para tokoh bak berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins adalah masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah manusia dan replicants, Deakins juga menghadirkan kontradiksi antara reruntuhan peradaban maju seperti di Las Vegas, tempat Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan aksi yang memberi peran penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling mempengaruhi rintangan karakter (ombak di klimaks) atau mempengaruhi mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi contoh eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak mampu mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis jelas lebih cocok.

Gosling sempurna mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan dingin yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih manusia dari manusia itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa tubuh nyata, justru lebih memiliki rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang ia lontarkan adalah hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang membuat kita spesial?

NOMINASI DAN SEDIKIT OPINI FESTIVAL FILM INDONESIA 2017

Pada Kamis (06/10/2017) malam, Festival Film Indonesia 2017 akhirnya mengumumkan daftar nominasi. Dari tahun ke tahun, FFI memang kerap memancing polemik, tak terkecuali tahun ini. Pertama soal ketidakpastian jumlah nominasi, ada yang empat, lima, enam, bahkan tujuh. Seolah tanpa ketentuan. Hal ini paling terasa di kategori "Pemeran Utama Pria Terbaik", di mana hanya ada empat nama, dan Reza Rahadian lewat performa baik di Critical Eleven bukan termasuk di antaranya. Kedua terkait dimasukkannya Kartini ke "Skenario Adaptasi Terbaik" dengan alasan "didasarkan pada kisah hidup R.A. Kartini". Terakhir soal kelayakan Posesif sebagai nominasi. Sebab salah satu syarat peserta FFI adalah sudah mendapat STLS (Surat Tanda Lulus Sensor), dan bila melihat data di website LSF, film karya Edwin itu belum tercantum, meski beberapa pihak menyatakan surat tersebut telah didapat.

Namun tidak semua hal mengenai FFI 2017 bernuansa negatif. Senang melihat judul-judul di luar drama, memperoleh pengakuan. Pengabdi Setan mendapat 13 nominasi, terbanyak kedua setelah Kartini dengan 14 nominasi. Sementara Night Bus membawa pulang 12 nominasi. Ini jelas langkah positif ketika banyak ajang penghargaan atau festival seolah gengsi menyertakan horor atau thriller. Berikut daftar nominasi lengkap beserta sedikit pembahasan.

Film Terbaik
  • Cek Toko Sebelah 
  • Kartini 
  • Night Bus 
  • Pengabdi Setan
  • Posesif
Belum menonton Posesif, tapi keempat nominasi lain jelas layak. Meski berharap Sweet 20 turut disertakan. Kartini besar kemungkinan bakal jadi pemenang, meski akan menyenangkan bila Pengabdi Setan berjaya.


Sutradara Terbaik
  • Edwin - Posesif
  • Emil Heradi - Night Bus
  • Ernest Prakasa - Cek Toko Sebelah
  • Hanung Bramantyo - Kartini
  • Joko Anwar - Pengabdi Setan
  • Ody C. Harahap - Sweet 20
Menarik melihat ada enam nama, dan salah satunya ada Ody C. Harahap, membuktikan kelayakan Sweet 20 merangsek di kategori Film Terbaik. Pertarungan sengit antara Ernest dan Hanung, dengan Joko Anwar sebagai kuda hitam.


Penulis Skenario Asli Terbaik
  • Ernest Prakasa - Cek Toko Sebelah
  • Gina S. Noer - Posesif
  • Joko Anwar, Ernest Prakasa, Bene Dion Rajagukguk - Stip & Pensil
  • Nurman Hakim, Zaim Rofiqi, Ben Sohib - Bid'ah Cinta
  • Raditya Dika - Hangout
Hangout mendapat pengakuan sepertinya berpijak pada keberanian eksperimen Dika, meski sejatinya tak berjalan mulus. Stip & Pensil, juga Bid'ah Cinta amat layak mengingat usungan tema yang begitu relevan. Semestinya kemenangan bagi Ernest, meski keputusan memasukkan Posesif seolah bukti kecintaan besar juri terhadapnya.


Penulis Skenario Adaptasi Terbaik 
  • Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo - Kartini berdasarkan kisah hidup R.A. Kartini
  • Fathan Todjon, Lucky Kuswandi - Galih Dan Ratna berdasarkan novel "Gita Cinta dari SMA" karya Eddy D. Iskandar
  • Joko Anwar - Pengabdi Setan berdasarkan film Pengabdi Setan (1980)
  • Rahabi Mandra, Teuku Rifnu Wikana - Night Bus berdasarkan cerita pendek "Selamat" karya Teuku Rifnu Wikana
  • Upi - Sweet 20 adaptasi skenario film Korea Selatan Miss Granny (2014) 
Sekali lagi, Kartini mestinya termasuk skenario asli. Keberadaannya di sini membesarkan kemungkinan kemenangan Hanung dan Bagus Bramanti.

Pengarah Sinematografi Terbaik
  • Amalia T.S - Galih Dan Ratna
  • Anggi Frisca - Night Bus
  • Batara Goempar - Posesif
  • Faozan Rizal - Kartini
  • Ical Tanjung - Pengabdi Setan
Faozan Rizal dengan kecerdikan permainan cahayanya akan menang setelah bersaing ketat dengan parade teror memukau mata Ical Tanjung.

Pemeran Utama Pria Terbaik
  • Adipati Dolken - Posesif
  • Deddy Sutomo - Kartini
  • Ernest Prakasa - Cek Toko Sebelah
  • Teuku Rifnu Wikana - Night Bus
Reza Rahadian semestinya menjadi nominee kelima dengan kemungkinan menang terbesar. Ernest adalah sutradara sekaligus penulis yang baik, tapi tidak demikian sebagai aktor. Sedangkan Deddy Sutomo nampaknya lebih tepat di kategori pemeran pendukung.

Pemeran Utama Wanita Terbaik
  • Adinia Wirasti - Critical Eleven
  • Dian Sastrowardoyo - Kartini
  • Putri Marino - Posesif
  • Sheryl Sheinafia - Galih Dan Ratna
  • Tatjana Saphira - Sweet 20
Walau ingin melihat kemenangan Adinia, rasanya Dian Sastrowardoyo takkan terkalahkan.

Pemeran Pendukung Pria Terbaik
  • Alex Abbad - Night Bus
  • Dion Wiyoko - Cek Toko Sebelah
  • Slamet Rahardjo - Sweet 20
  • Tyo Pakusadewo - Night Bus
  • Yayu Unru - Posesif
Satu nama yang terlewat tak lain Ade Firman Hakim di Bid'ah Cinta. Persaingan ketat antara Dion Wiyoko dan Slamet Rahardjo. Dion akan menang andai FFI ingin mengutamakan pemeran muda.

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
  • Adinia Wirasti - Cek Toko Sebelah
  • Christine Hakim - Kartini
  • Cut Mini - Posesif
  • Djenar Maesa Ayu - Kartini
  • Marissa Anita - Galih Dan Ratna
  • Niniek L. Karim - Sweet 20
  • Widyawati Sophiaan - Sweet 20
Tujuh nama jelas terlalu banyak. Adinia tampil baik, namun belum setingkat beberapa nama lain, khususnya Christine Hakim. Widyawati Sophiaan di Critical Eleven begitu luar biasa, tapi sepertinya FFI tak memiliki cinta bagi film tersebut.

Pemeran Anak Terbaik
  • Aisha Nurra Datau - Iqro: Petualangan Meraih Bintang
  • Bima Azriel - Surat Kecil Untuk Tuhan
  • Muhammad Adhiyat - Pengabdi Setan
  • Muhammad Razi - Surau Dan Silek
  • Neysa Chandra Melisenda - Kartini
Kemenangan Muhammad Adhiyat si "bocah setan" akan menggembirakan banyak pihak termasuk saya. 

Film Pendek Terbaik
  • Amak - Ella Angel
  • Babaran - Meilani Dina Pangestika
  • Buang - Eugene Panji
  • Jendela - Randi Pratama
  • Kleang Kabur Kanginan - Riyanto Tan Ageraha
  • Lintah Darat - Putri Zakiyatun Ni'mah
  • Nyathil - Anggita Dwi Martiana
  • Pentas Terakhir - Triyanto "Genthong" Hapsoro
  • Ruah - Makbul Mubarak
  • Salam Dari Kepiting Selatan - Zhafran Solichin
Pengarah Artistik Terbaik
  • Allan Sebastian - Kartini
  • Allan Sebastian - Pengabdi Setan
  • Benny Lauda - Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
  • Vida Sylvia - Sweet 20
Entah lewat Kartini atau Pengabdi Setan, Allan Sebastian akan membawa pulang piala, meski nuansa vintage warna-warni garapan Vida Sylvia tak kalah memikat.

Penata Efek Visual Terbaik
  • Amrin Nugraha - Night Bus
  • Epix Studio, Postima, Mag - Rafathar
  • Finalize Studios (Heri Kuntoro, Abby Eldipie) - Pengabdi Setan
  • Fixit Works (Dana Riza & Faranas Irmal) - Pasukan Garuda (I Leave My Heart in Libanon)
  • Orangeroom CS - Gerbang Neraka 
Gerbang Neraka punya pemanfaatan CGI terbaik dalam film Indonesia sejauh ini, jadi jelas saya memberi dukungan pada siapa.

Penyunting Gambar Terbaik
  • Aline Jusria - Sweet 20 
  • Arifin Cuunk - Pengabdi Setan
  • Cesa David Luckmansyah - Cek Toko Sebelah
  • Kelvin Nugroho dan Sentot Sahid - Night Bus
  • Ryan Purwoko - Critical Eleven
  • Wawan I. Wibowo - Kartini
  • W. Ichwandiardono - Posesif
Bicara koheresi, hasil karya Aline Jusria patut membawa pulang kemenangan.

Penata Suara Terbaik
  • Dwi Budi Priyanto, Khikmawan Santosa - Pasukan Garuda (I Leave My Heart in Libanon)
  • Khikmawan Santosa, Sutrisno - Kartini
  • Khikmawan Santosa, Anhar Moha - Pengabdi Setan
  • Khikmawan Santosa, Mohamad Ikhsan Sungkar, Madunazka - Cek Toko Sebelah
  • Khikmawan Santosa, Mohamad Ikhsan Sungkar Suhadi - Critical Eleven
  • Wahyu Tri Purnomo, Jantra Suryaman - Night Bus
Selain naskah, penataan suara film lokal termasuk kekurangan sumber daya mumpuni yang mana terlihat dari dominasi Khikmawan Santosa. Permainan tata suara pembangun atmosfer di Pengabdi Setan jadi unggulan.

Penata Musik Terbaik
  • Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti - Pengabdi Setan
  • Ivan Gojaya - Galih Dan Ratna
  • McAnderson - Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
  • Thoersi Argeswara - Pasukan Garuda (I Leave My Heart in Libanon)
  • Tya Subyakto - Mooncake Story
Duel sengit trio Pengabdi Setan melawan Ivan Gojaya. Siapapun pemenangnya di antara kedua pihak bukan masalah.

Pencipta Lagu Tema Terbaik
  • Isyana Sarasvati - "Sekali Lagi" - Critical Eleven
  • Melly Goeslaw -"Dalam Kenangan" - Surga Yang Tak Dirindukan 2
  • Mada The Overtunes -"Senyuman dan Harapan" - Cek Toko Sebelah
  • The Spouse -"Kelam Malam" - Pengabdi Setan
I Still Love You (Cek Toko Sebelah) dari The Overtune pantas masuk. Sekali Lagi adalah nomor yang amat menyentuh, tapi tak ada lagu tema seikonik Kelam Malam.

Penata Busana Terbaik
  • Anggia Kharisma - Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
  • Dara Asvia - Sweet 20
  • Gemailla Dea Geriantiana - Night Bus
  • Isabelle Patrice - Pengabdi Setan
  • Retno Ratih Damayanti - Kartini
Don't bet against Retno Ratih Damayanti.

Penata Rias Terbaik
  • Cherry Wirawan - Night Bus
  • Cherry Wirawan, Dian Anggraini - Gerbang Neraka
  • Cika Rianda - Posesif
  • Darwyn Tse - Pengabdi Setan
  • Darto Unge - Kartini
Film kita kerap miskin kreativitas merias hantu, dan Darwyn Tse menyajikan kualitas di level yang berbeda.

Film Animasi Pendek Terbaik
  • Darmuji 86: Bhinneka di Persimpangan - Ahmad Hafidz Azro'i
  • Kaie And The Phantasus's Giants - Ahmad Hafidz Azro'i
  • Lukisan Nafas - Fajar Ramayel
  • Make A Wish - Salsabilla Aulia Rahma
  • Mudik - Calvin Chandra, Ardhira Anugrah Putra, Alfonsos Andre, Aditya Prabaswara
Film Dokumenter Panjang Terbaik
  • Balada Bala Sinema - Yuda Kurniawan
  • Banda: The Dark Forgotten Trail - Jay Subyakto
  • Bulu Mata - Tonny Trimarsanto
  • Ibu (En Extraordinary Mother) - Patar Simatupang
  • Negeri Dongeng - Anggi Frisca
  • Tarling is Darling - Ismail Fahmi Lubis
Film Dokumenter Pendek Terbaik
  • Anak Koin - Chrisila Wentiasri
  • Dluwang: The Past From The Trash - Agni Tirta
  • Living In Rob - Fuad Hilmi
  • Sepanjang Jalan Satu Arah - Bani Nasution
  • Solastalgia - Kurnia Yudha F.
  • Songbird: Burung Berkicau - Wisnu Surya Pratama
  • The Unseen Words - Wahyu Utami Wati